Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, Direktorat Pencegahan dan Penanganan Isu Strategis serta Subdirektorat Mitigasi Crisis Center Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar International Conference and Workshop on Mental Health pada Rabu, 9 Oktober 2024, bertempat di Auditorium Rektorat Lantai 11 UNESA. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terkait isu kesehatan mental di kalangan akademisi dan masyarakat luas.
Dr. Retno Tri Hariastuti, M.Pd., Kons. sebagai Kepala Bidang Akademik Subdirektorat Mitigasi Crisis Center UNESA, membuka sesi pertama dengan materi tentang kesehatan mental dan karakteristik individu dengan mental yang sehat. Ia mengungkapkan data dari Kementerian Kesehatan yang mencatat peningkatan kasus bunuh diri hingga 826 kasus pada tahun 2023. Lebih dari itu, 17,95 juta remaja di Indonesia dilaporkan mengalami gangguan mental. Menurut Dr. Retno, fenomena ini menggarisbawahi urgensi untuk menangani masalah kesehatan mental, terutama di kalangan mahasiswa yang sering kali berada dalam tekanan akademik dan sosial yang tinggi.
Melanjutkan sesi berikutnya, Prof. Sang Min Lee dari Departemen Pendidikan, Universitas Korea, berbicara tentang definisi stres, penyebabnya, serta regulasi emosi dan intervensi stres. Ia menjelaskan bahwa stres, selain berdampak pada kelelahan fisik dan emosional, juga bisa memicu gangguan mental seperti depresi, kecemasan, hingga burnout. Prof. Sang Min juga memperkenalkan model tahapan burnout yang dikembangkan oleh Edelwich dan Brodsky (1980), yang mencakup empat tahap: antusiasme, stagnasi, frustrasi, dan apati. Menurutnya, jika tidak ditangani dengan baik, stres bisa memicu penyakit serius, seperti penyakit kronis, kelelahan berlebih, dan bahkan serangan jantung.
Masduki, S.H., M.H. sebagai Penyuluh Narkoba Ahli Madya BNBP Jawa Timur, menyampaikan materi tentang Upaya Pencegahan dan Dampak Penyalahgunaan Narkotika di Lingkungan Mahasiswa. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa dan lingkungan kampus dalam mencegah penyalahgunaan narkotika melalui edukasi dan dukungan yang berkesinambungan. Tak hanya itu, Masduki juga menyoroti betapa berbahayanya penyalahgunaan narkoba bagi kesehatan mental dan fisik. Masduki merinci dampak berbagai jenis narkoba, seperti:
- Ganja: Gangguan memori, persepsi waktu, suasana hati, dan risiko gangguan mental.
- Sabu: Euforia, insomnia, paranoia, hingga kerusakan otak jangka panjang.
- Ekstasi: Gangguan tidur, tekanan darah tinggi, depresi, dan gangguan memori.
Sesi terakhir disampaikan oleh drg. Vitria Dewi, Direktur RS Jiwa Menur, yang membahas penyebab umum gangguan mental. Menurut drg. Vitria, tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, bullying, narkoba, permasalahan keluarga, dan kehilangan adalah faktor utama yang dapat memicu gangguan mental. Ia juga menjelaskan kapan seseorang harus mengunjungi psikolog dengan menggunakan panduan "4D":
- Deviance: Perilaku yang menyimpang dari norma masyarakat, seperti berbicara sendiri.
- Distress: Pikiran dan perasaan yang mengganggu, misalnya emosi berlebihan atau sering munculnya pikiran negatif.
- Dysfunction: Ketidakmampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
- Danger: Perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Drg. Vitria menutup presentasinya dengan mengajak peserta untuk tidak takut mencari bantuan profesional, karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Acara ini berhasil memperkuat pentingnya kesadaran akan kesehatan mental di tengah masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa yang sering kali rentan terhadap stres dan tekanan sosial. Dengan pemaparan dari para ahli, peserta diharapkan lebih siap untuk mengelola stres, mendeteksi dini gangguan mental, dan mendukung sesama dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik.
Mari bersama menjaga kesehatan mental demi masa depan yang lebih baik! UNESA satu langkah di depan!
Share It On: