September Hitam: Menggugah Kesadaran Akan Kekerasan Seksual dan Ketidakadilan HAM

Pada Rabu, 25 September 2024, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar kegiatan bertajuk "September Hitam" di Joglo FBS. Kegiatan ini diadakan sebagai bentuk peringatan atas ketidakadilan Hak Asasi Manusia (HAM), terutama yang terjadi di bulan September 1965. Fokus utama dalam kegiatan ini adalah peringatan atas bentuk ketidak adilan yang terjadi di bulan September 1965 serta menyoroti isu kekerasan seksual, salah satu bentuk ketidakadilan HAM yang sering kali terjadi di sekitar kita, namun sering dianggap sepele.
Duta Anti Kekerasan Seksual UNESA, Hendrik, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan pentingnya pemahaman terkait jenis-jenis kekerasan seksual, termasuk tindakan catcalling yang biasanya dianggap sebagai candaan. Dampaknya bagi korban sangat beragam dan seringkali menimbulkan trauma berkepanjangan. Hendrik juga menyoroti bahwa memviralkan kasus kekerasan seksual justru bisa memperburuk kondisi korban. Saat sebuah kasus menjadi viral, perhatian publik tak hanya tertuju pada pelaku, tetapi juga korban. Akibatnya, korban kerap menerima stigma buruk dari masyarakat, yang pada gilirannya memperparah trauma yang mereka alami.
Uyun, Duta Kampus Sehat, yang juga menjadi pembicara, menegaskan bahwa pakaian korban tidak bisa dijadikan alasan atau pemicu terjadinya kekerasan seksual. Menurutnya, akar dari masalah ini adalah kerusakan moral dan mental pelaku, bukan apa yang dikenakan oleh korban.
Dalam sesi tanya jawab, Hendrik berbagi contoh kasus kekerasan seksual dari salah satu universitas yang sempat viral. Namun, viralnya kasus justru akan menurunkan jumlah pelaporan kasus, karena korban takut terhadap stigma sosial. Hendrik menekankan bahwa langkah terbaik adalah melaporkan kejadian kekerasan seksual ke Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) UNESA, yang memiliki prosedur penanganan kasus dan perlindungan korban yang terstruktur.
Share It On: