Perempuan Bangkit dan Berdaya: Melawan Kekerasan di Kampus melalui Edukasi

Sebagai mahasiswa yang tumbuh di era milenial, penting untuk meningkatkan kesadaran akan kekerasan, khususnya yang terjadi di lingkungan kampus. Dalam acara Talkshow Pemberdayaan Perempuan bertajuk "How to be Alpha Women" yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Senin, 16 September 2024, para peserta diajak untuk memahami lebih dalam tentang isu intoleransi, kekerasan seksual, dan bullying. Acara ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman melalui peningkatan pengetahuan mahasiswa.
Hendrik, Duta Anti Kekerasan Seksual UNESA yang menjadi salah satu pembicara, menjelaskan definisi kekerasan menurut Peraturan Rektor Universitas Negeri Surabaya No. 11 Tahun 2024. Kekerasan didefinisikan sebagai setiap tindakan atau keputusan yang menimbulkan rasa sakit, luka, penderitaan seksual, gangguan fungsi tubuh, ketakutan, atau kerugian lain yang berdampak pada fisik, mental, atau hak asasi manusia. Definisi ini mencakup berbagai bentuk kekerasan, mulai dari yang bersifat fisik hingga psikis.
Dalam paparannya, Hendrik juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus kekerasan yang dilaporkan di lingkungan UNESA sepanjang tahun 2022-2024. Ia menyampaikan rincian laporan kekerasan berdasarkan fakultas yang diterima dari Januari hingga September 2024.

Sementara itu, Reina, anggota Satgas PPKS UNESA yang juga menjadi pembicara, menekankan definisi kekerasan seksual sesuai dengan Peraturan Rektor yang sama. Ia menjelaskan bahwa kekerasan seksual meliputi setiap tindakan yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang tubuh atau fungsi reproduksi seseorang, yang diakibatkan oleh ketimpangan relasi kuasa atau gender. Kekerasan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan psikis, tetapi juga menghambat kesempatan untuk menjalani pendidikan tinggi dengan aman dan optimal.
Reina juga memaparkan beberapa contoh kekerasan seksual, seperti ujaran yang mendiskriminasi tampilan fisik atau identitas gender korban, penyebaran konten bernuansa seksual, hingga siulan atau lelucon bernada seksual. Ia mengajak para peserta untuk bersikap tegas dalam menghadapi situasi seperti ini. "Tunjukkan bahwa perempuan itu berdaya dan mampu berdiri sendiri, tidak selalu mudah diperdaya," tegas Reina.
Untuk menutup sesi, Reina mengajak seluruh peserta untuk menyanyikan lagu Diri oleh Tulus, sebagai simbol penguatan diri dan semangat pemberdayaan perempuan.
Share It On: