Pada 26 September 2024, acara pelepasan mahasiswa MBKM di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi momen penting untuk menyampaikan pesan terkait pencegahan kekerasan, terutama kekerasan seksual yang semakin marak terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Dalam acara tersebut, Nanda Audia Vrisaba, M.Psi., Psikolog, selaku Ketua Sie Prevensi dan Intervensi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), memberikan edukasi anti kekerasan kepada mahasiswa. Nanda menyoroti bahwa kekerasan bisa terjadi kapan saja, tak peduli waktu, tempat, gender, maupun status sosial.
Nanda menjelaskan berbagai bentuk kekerasan yang kerap terjadi, mulai dari kekerasan fisik, psikis, perundungan, hingga kekerasan seksual. Selain itu, ia juga mengingatkan tentang bahaya diskriminasi, intoleransi, dan kebijakan-kebijakan yang bersifat memaksa yang sering kali luput dari perhatian, tetapi memiliki dampak yang sangat signifikan. Ia juga menguraikan bahwa kekerasan seksual memiliki berbagai bentuk, termasuk verbal, fisik, psikis, hingga kekerasan yang terjadi di ranah digital.
Nanda memberikan beberapa tips penting bagi mereka yang berpotensi menjadi korban kekerasan seksual. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk menolak dan berkata "tidak" kepada pelaku. Jika ada bukti, segera kumpulkan dan simpan dengan baik. Penting juga, lanjutnya, untuk bercerita kepada orang yang dipercaya dan melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwenang agar segera mendapatkan penanganan yang tepat. Langkah-langkah pencegahan ini, menurut Nanda, adalah bentuk perlindungan diri yang harus selalu diingat oleh setiap orang.
Sebelum menutup sesinya, Nanda berpesan kepada mahasiswa untuk segara melapor ke Satgas PPKS UNESA apabila melihat atau mengetahui adanya kekerasan, perundungan, atau diskriminasi di lingkungan sekitar. Karena langkah cepat dan tepat sangatlah penting untuk menghentikan rantai kekerasan yang dapat berdampak panjang.
Pelepasan mahasiswa MBKM ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga diri dan sesama dari kekerasan. Acara tersebut juga menjadi pengingat bahwa dalam membangun masa depan, diperlukan lingkungan yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan.