Satgas PPK UNESA Dorong Pendidikan STEM Inklusif dalam Forum Internasional Unesa–Equity Summer Course
Sebagai bagian dari komitmen membangun lingkungan perguruan tinggi yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) turut berpartisipasi dalam kegiatan Unesa–Equity International Summer Course in SDGs and STEM bertema “Inclusive Education and Gender Equality in STEM”. Kegiatan ini diselenggarakan secara luring pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Auditorium Lantai 9 Gedung Fakultas Kedokteran UNESA, dengan melibatkan peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Rusia, Singapura, Malaysia, dan Afrika.
Dalam kegiatan tersebut, Satgas PPK UNESA menghadirkan Kasi Prevensi dan Intervensi Subdirektorat PPKIS UNESA, Putri Aisyiyah Rachma Dewi, sebagai narasumber utama. Pada sesi pemaparannya, ia menyoroti keterkaitan antara ketimpangan gender dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dengan potensi munculnya praktik diskriminasi, eksklusi, hingga kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan tinggi.
Sebagai pengantar diskusi, narasumber mengawali sesi dengan sepuluh pertanyaan reflektif yang disampaikan melalui mentimeter untuk memetakan perspektif awal peserta. Materi kemudian dibuka dengan penguatan pemahaman mengenai STEM sebagai bidang strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan dan inovasi global. Namun demikian, ia menegaskan bahwa akses dan partisipasi yang tidak setara dalam bidang STEM berpotensi memperkuat relasi kuasa yang timpang, sehingga dapat melanggengkan kekerasan simbolik, stereotip gender, serta praktik ketidakadilan baik di ruang akademik maupun non-akademik.
Sejumlah temuan riset turut dipaparkan untuk menunjukkan bagaimana konstruksi sosial dan budaya patriarki masih memengaruhi kepercayaan diri, peluang belajar, serta pengalaman perempuan dan kelompok rentan di bidang STEM. Kondisi ini, apabila tidak direspons melalui kebijakan dan praktik pendidikan yang sensitif gender, berisiko menciptakan lingkungan kampus yang tidak aman dan tidak ramah bagi seluruh sivitas akademika. Dalam hal tersebut, pendidikan STEM yang inklusif dipandang sebagai salah satu strategi penting dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender, pelecehan, dan diskriminasi, melalui penguatan kesadaran kritis, kebijakan institusional, serta budaya akademik yang setara.
Sesi ini dirancang secara interaktif melalui diskusi dan refleksi kelompok. Para mahasiswa internasional diajak untuk berbagi pengalaman dan merefleksikan kondisi pendidikan inklusif serta kesetaraan gender di negara masing-masing, sehingga tercipta pertukaran perspektif lintas budaya yang memperkaya diskusi.
Melalui keterlibatan Satgas PPK UNESA dalam forum internasional ini, UNESA menegaskan komitmennya untuk tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga konsisten dalam membangun perguruan tinggi yang aman, berperspektif gender, serta berorientasi pada pencegahan dan penanganan kekerasan secara berkelanjutan.
Share It On: