Direktur PPIS Unesa Dorong Dosen Muda UINSA Kembangkan Riset Responsif Gender
Surabaya, 11 November 2025 — Upaya mewujudkan kampus yang berkeadilan dan responsif terhadap isu-isu gender membutuhkan kontribusi aktif dari seluruh sivitas akademika, terutama para dosen muda sebagai motor penggerak perubahan. Semangat ini menjadi inti dalam kegiatan Diskusi dan Pendampingan Penelitian Responsif Gender yang digelar di Greensa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Selasa (11/11).
Kegiatan yang diikuti oleh para dosen muda UINSA tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., selaku Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dalam paparannya, Prof. Mutim mengajak peserta untuk menaruh perhatian serius terhadap persoalan ketimpangan gender di lingkungan kampus.
Ia menguraikan berbagai bentuk ketimpangan yang masih sering dijumpai, mulai dari partisipasi yang tidak setara, senioritas jabatan yang bias, kekerasan berbasis gender, stereotip peran laki-laki dan perempuan, hingga kebijakan institusi yang belum sepenuhnya berperspektif gender. Menurutnya, persoalan-persoalan tersebut perlu direspons dengan langkah nyata agar kampus dapat menjadi ruang aman dan setara bagi semua pihak.
“Untuk mewujudkan kampus yang responsif gender, bisa dimulai dari berbagai aspek, seperti penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PKM), pendidikan melalui mata kuliah, kebijakan, advokasi, hingga penyediaan infrastruktur yang inklusif,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Mutim menekankan pentingnya penelitian dan PKM bertema gender sebagai upaya akademik dalam mendorong kesetaraan. Ia juga memperkenalkan pendekatan netnografi sebagai metode penelitian yang relevan untuk mengkaji isu-isu gender di ruang digital. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi tersebut. Diskusi berkembang dinamis ketika beberapa peserta mengajukan pertanyaan seputar penerapan metode netnografi, topik-topik krusial dalam riset gender, serta peluang kolaborasi lintas kampus.
Menutup sesi, Prof. Mutimmatul memberikan motivasi kepada para peserta untuk terus semangat membangun budaya riset yang berperspektif keadilan gender. “Riset yang responsif gender bukan sekadar tren akademik, tapi wujud komitmen kita menciptakan ruang ilmu yang berpihak pada kemanusiaan,” pesannya penuh semangat.
Share It On: