Direktorat PPIS UNESA dan Kemendikdasmen Rumuskan Kurikulum Pendidikan Darurat Pascabencana
Pemulihan layanan pendidikan menjadi salah satu tantangan utama pascabencana banjir yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh. Gangguan terhadap proses belajar mengajar, kondisi psikososial peserta didik, serta keterbatasan sarana prasarana menuntut adanya langkah terkoordinasi dan berkelanjutan agar hak pendidikan tetap terpenuhi. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi kunci dalam memastikan layanan pendidikan dapat berjalan kembali secara adaptif dan aman.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar focus group discussion (FGD) bersama Pusat Kurikulum dan Pembelajaran serta Satuan Pendidikan Aman Bencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 10 Januari 2026 secara daring. FGD ini difokuskan pada persiapan pengiriman tim UNESA dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan yang terdampak banjir di wilayah Sumatra dan Aceh.
Dalam diskusi tersebut, dibahas strategi pemulihan layanan pendidikan pada satuan pendidikan terdampak bencana yang dirancang melalui tiga tahap utama. Tahap pertama adalah koordinasi dan aktivasi Pos Pendidikan di setiap provinsi serta kabupaten/kota terdampak, sebagai pusat layanan pemulihan pendidikan. Tahap kedua berupa penyiapan layanan pendidikan darurat untuk memastikan proses belajar tetap berlangsung dalam kondisi krisis. Sementara tahap ketiga difokuskan pada rehabilitasi dan rekonstruksi layanan pendidikan agar kembali berjalan normal.
FGD juga membahas penerapan Kurikulum Penanggulangan Dampak Bencana yang disusun secara bertahap sesuai dengan kondisi pemulihan. Pada fase tanggap darurat yang berlangsung selama 0 hingga 3 bulan, kurikulum disesuaikan menjadi kurikulum minimum esensial dengan fokus pada kompetensi dasar, seperti literasi dan numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, serta informasi mitigasi bencana. Pada fase ini, pembelajaran didukung oleh pengembangan bahan belajar darurat, penerapan metode pembelajaran adaptif, serta integrasi dukungan psikososial dalam kegiatan belajar. Sistem asesmen juga disederhanakan tanpa asesmen formatif maupun sumatif yang kompleks, dengan penekanan pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid.
Memasuki fase pemulihan dini yang berlangsung selama 3 hingga 12 bulan, kurikulum diarahkan menjadi kurikulum adaptif berbasis krisis dengan mengintegrasikan materi mitigasi bencana ke dalam mata pelajaran yang relevan. Pada tahap ini, disiapkan program pemulihan pembelajaran untuk mengejar ketertinggalan capaian belajar murid, disertai penerapan pembelajaran fleksibel dan diferensiasi. Penyesuaian jadwal belajar dilakukan bagi murid yang masih berada di pengungsian, dengan kemungkinan penerapan pembelajaran blended atau hybrid jika kondisi memungkinkan, serta pengelompokan murid berdasarkan tingkat capaian belajar. Sistem asesmen transisi diterapkan melalui portofolio atau unjuk kerja sederhana, remedial berkelanjutan bagi murid terdampak berat, serta penilaian perkembangan sosial-emosional.
Sementara itu, pada fase pemulihan lanjutan yang berlangsung dalam rentang waktu 1 hingga 3 tahun, kurikulum diarahkan pada integrasi permanen pendidikan kebencanaan dalam sistem pembelajaran. Fokus utama pada tahap ini adalah penguatan kualitas pembelajaran, penerapan pembelajaran inklusif berbasis ketahanan, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi pendidikan darurat sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapsiagaan satuan pendidikan dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Melalui FGD ini, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis UNESA menegaskan peran aktif perguruan tinggi dalam mendukung kebijakan pemulihan pendidikan pascabencana secara komprehensif. Sinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah diharapkan mampu memastikan layanan pendidikan di wilayah terdampak banjir Sumatra–Aceh tidak hanya pulih, tetapi juga menjadi lebih adaptif, inklusif, dan tangguh terhadap bencana.
Share It On: