Membangun Sekolah Tangguh: SMCC UNESA Latih Mahasiswa Terapkan SPAB untuk Hadapi Bencana
Kesadaran akan ancaman bencana dan perubahan iklim semakin menjadi urgensi di lingkungan pendidikan. Menjawab kebutuhan tersebut, Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Pelatihan Sekolah Aman Bencana pada Selasa, 12 Agustus 2025. Mengusung tema “Membangun Ketangguhan Pendidikan dari Bencana dan Perubahan Iklim melalui Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)”, kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai program studi. Tujuannya untuk membekali pendidik, tenaga kependidikan, dan pemangku kepentingan sekolah dengan wawasan serta keterampilan untuk mengurangi risiko bencana di satuan pendidikan.
Pelatihan dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama menghadirkan dua narasumber dari BPBD Provinsi Jawa Timur, yaitu Mukhtarodin Widodo, S.T. dan Irvan Setyanudin. Keduanya membedah konsep Pengurangan Risiko Bencana melalui enam poin penting yang menjadi inti dari SPAB. Pertama, peserta diajak memahami pentingnya data dan informasi risiko serta dampak bencana di satuan pendidikan, yang menjadi dasar pemetaan risiko secara akurat. Kedua, pembahasan mengenai kerangka konsep dan regulasi SPAB yang memayungi penerapannya di tingkat nasional. Ketiga, narasumber menekankan penyelenggaraan program SPAB oleh pemerintah daerah dan satuan pendidikan yang memerlukan sinergi erat antar pihak. Keempat, pemaparan capaian penyelenggaraan sekaligus peta jalan program SPAB, lengkap dengan target jangka pendek hingga panjang. Kelima, identifikasi faktor pendukung dan penghambat yang sering muncul dalam penerapan di lapangan. Terakhir, rekomendasi dan strategi ke depan agar program dapat berkelanjutan dan memberi manfaat luas. Selama sesi ini, peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mendalami contoh-contoh kasus yang relevan.
Sesi kedua dengan narasumber dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Surabaya, Zainal Fatah, S.Pd.I. Materi yang dibawakan berfokus pada strategi penerapan SPAB di lapangan. Zainal Fatah membagikan praktik baik penerapan program ini di sekolah, mulai dari membangun budaya siaga bencana di kalangan siswa dan guru, melaksanakan pelatihan rutin, hingga membiasakan prosedur evakuasi yang efektif. Ia menekankan bahwa keberhasilan SPAB tidak hanya bergantung pada dokumen dan regulasi, tetapi juga pada keterlibatan aktif seluruh komunitas sekolah.

Sebagai penutup, para peserta diajak mengikuti simulasi bencana dan evakuasi. Skenario yang digunakan dibuat realistis, melibatkan kondisi gempa bumi dan kebakaran. Peserta mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan diri, memanfaatkan jalur evakuasi aman, dan melatih koordinasi tim dengan cepat. Latihan ini tidak hanya menguji kecepatan respon, tetapi juga memupuk rasa percaya diri dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Pelatihan ini menjadi ruang strategis bagi peserta untuk menyatukan pengetahuan teoritis dengan keterampilan praktis. Dengan bekal yang diperoleh, mereka diharapkan mampu mengimplementasikan SPAB di lingkungan masing-masing, menciptakan satuan pendidikan yang tangguh, aman, dan siap menghadapi ancaman bencana serta perubahan iklim.
Share It On: