Belajar Tangguh Sejak Awal: Direktorat UNESA Ajak Mahasiswa Baru Siap Mental Hadapi Dunia Kampus
Surabaya, 26 September 2025 – Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan webinar bertajuk “Ketahanan Mental Mahasiswa Baru” pada Jumat (26/9) melalui platform Zoom. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa baru angkatan 2025 dari Fakultas Psikologi. Webinar tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam mempersiapkan mahasiswa baru agar memiliki kesiapan mental, kemampuan adaptasi sosial, serta kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan beretika.
Acara menghadirkan dua pemateri dengan latar belakang keilmuan yang berbeda namun saling melengkapi. Sesi pertama diisi oleh Ellyana Ilsan Eka Putri, M.Psi., Koordinator Bimbingan dan Konseling Fakultas Psikologi UNESA, yang menyoroti fenomena homesick yang kerap dialami oleh mahasiswa baru. Ia menjelaskan bahwa rasa rindu keluarga adalah hal yang wajar dan bahkan menunjukkan keterikatan emosional yang sehat. Namun, Ellyana menegaskan pentingnya pengelolaan emosi agar perasaan tersebut tidak menghambat proses adaptasi.
Dalam pemaparannya, ia memberikan sejumlah strategi praktis seperti menjaga komunikasi rutin dengan orang tua, aktif berpartisipasi dalam kegiatan kampus dan organisasi, serta membangun jejaring pertemanan yang positif di lingkungan akademik. Ia juga menekankan pentingnya bersikap terbuka terhadap culture shock yang mungkin muncul, namun tetap mempertahankan nilai-nilai dan identitas diri. Untuk membantu penyesuaian akademik, Ellyana mendorong mahasiswa agar memahami karakter dosen, menyusun target belajar dengan metode SMART goals, serta memanfaatkan berbagai fasilitas digital yang disediakan kampus seperti SSO, myUnesa, dan layanan e-konseling.
Sesi kedua menghadirkan Rojil Nugroho B. A., S.Hum., M.A., selaku Kasi Ideologi Moderasi Beragama dan Bela Negara UNESA. Dalam paparannya, ia menyoroti isu penting mengenai pencegahan kekerasan seksual sebagai bagian integral dari penguatan ketahanan mental mahasiswa. Menurutnya, kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga lingkungan sosial yang harus aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Rojil menjelaskan bahwa upaya pencegahan kekerasan seksual tidak hanya berlandaskan pada peraturan hukum, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dan etika bersama. Mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran kritis untuk saling menjaga dan berani bersuara jika melihat atau mengalami tindakan yang mengarah pada kekerasan. Ia juga memaparkan beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan, seperti meningkatkan pendidikan dan kesadaran mengenai isu kekerasan, memperkuat norma sosial anti-kekerasan, membangun sistem pelaporan yang terpercaya, serta menyediakan pendampingan bagi korban.
Selain itu, ia menekankan pentingnya perlindungan data pribadi, kehati-hatian dalam meninggalkan jejak digital, serta komitmen untuk menindak tegas pelaku kekerasan. Dalam konteks dampak, Rojil menjelaskan bahwa korban kekerasan seksual berisiko mengalami gangguan mental seperti kecemasan, depresi, hingga PTSD. Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena korban sering menghadapi stigmatisasi sosial yang memperburuk rasa malu dan keterasingan mereka.
Melalui webinar ini, UNESA menegaskan komitmennya untuk menghadirkan lingkungan kampus yang aman, ramah, dan mendukung kesehatan mental mahasiswa. Sinergi antara penguatan mental individu dan budaya anti-kekerasan diharapkan mampu membentuk generasi mahasiswa yang tangguh, berintegritas, dan peduli terhadap sesama.
Share It On: