UNESA Raih Apresiasi pada Festival Mangrove ke-10 atas Komitmen Mitigasi Bencana Berbasis Ekosistem
Upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi bagian dari tanggung jawab menjaga alam, tetapi juga merupakan strategi penting dalam mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Melalui pendekatan berbasis ekosistem, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terus mengembangkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan mitigasi bencana secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi dalam Festival Mangrove ke-10 yang diselenggarakan di Pantai Panduri, Tuban, pada Rabu (29/7). Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan penghargaan kepada Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC) Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) UNESA atas implementasi program Ecosystem-Based Disaster Risk Reduction yang berfokus pada pelestarian ekosistem mangrove sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana.
Direktur PPIS UNESA, Mutimmatul Faidah, menjelaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan langkah strategis dalam membangun ketahanan kawasan pesisir terhadap berbagai ancaman lingkungan. Menurutnya, mangrove memiliki peran penting dalam menekan laju abrasi pantai, mengurangi dampak intrusi air laut, menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, hingga menyerap emisi karbon yang berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim.
"Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi risiko abrasi pantai, menahan intrusi air laut, menjaga kualitas ekosistem pesisir, menyerap emisi karbon, serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program tersebut juga sejalan dengan komitmen UNESA dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan penanganan perubahan iklim, pelestarian ekosistem laut, dan perlindungan ekosistem daratan. Melalui berbagai program berbasis lingkungan, UNESA berupaya menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat MItigasi Crisis Center UNESA, Wiryo Nuryono, menuturkan bahwa keberadaan hutan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi benteng alami yang mampu melindungi wilayah pesisir dari ancaman bencana hidrometeorologi. Selain menjaga stabilitas garis pantai, ekosistem mangrove turut mendukung keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
"Penghargaan ini menjadi motivasi bagi UNESA untuk terus menghadirkan inovasi dan aksi nyata dalam pengurangan risiko bencana berbasis lingkungan," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Kebencanaan dan K3 UNESA, Aghus Shifaq, menilai bahwa pelestarian mangrove merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan lingkungan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, penguatan edukasi mengenai kebencanaan dan konservasi lingkungan perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin siap menghadapi berbagai risiko yang muncul akibat perubahan iklim.
Apresiasi yang diterima UNESA pada Festival Mangrove ke-10 menjadi pengakuan atas konsistensi perguruan tinggi dalam mengembangkan mitigasi bencana berbasis ekosistem. Lebih dari sekadar penghargaan, capaian tersebut menjadi dorongan bagi UNESA untuk terus memperluas kolaborasi dan menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan masyarakat pesisir, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Share It On: