E-SAFE Camp Vol. 7: Membangun Perisai Diri dari Kekerasan Seksual
Di tengah maraknya
isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, urgensi untuk memahami hak atas
tubuh dan menjaga kehormatan diri semakin nyata dirasakan. Tidak sedikit
mahasiswa yang masih belum menyadari pentingnya membangun batasan diri, baik di
ruang fisik maupun digital, sehingga rentan terhadap berbagai bentuk pelecehan.
Kesadaran ini menuntut adanya ruang edukasi yang tidak hanya memberikan
pengetahuan, tetapi juga membekali keterampilan praktis untuk melindungi diri
dan saling menjaga di lingkungan kampus.
Sebagai wujud
komitmen mewujudkan kampus yang aman, berdaya, dan bebas dari kekerasan
seksual, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT)
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menggelar E-SAFE Camp
episode ketujuh pada Sabtu, 9 Agustus 2025. Mengusung tema “Tubuhku,
Kehormatanku: Membangun Perisai Diri dari Kekerasan Seksual,” kegiatan ini
menghadirkan edukasi komprehensif mengenai hak atas tubuh, batasan pribadi, dan
strategi perlindungan diri di dunia nyata maupun digital. Diselenggarakan
secara daring, acara ini menyasar mahasiswa sebagai garda terdepan dalam
menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan saling menjaga.
Kegiatan ini
menghadirkan dua pembicara mahasiswa dari Satgas PPKPT UNESA, yakni Elisia Nurin dan Reina Iranti, yang
membahas tuntas cara melindungi tubuh dan kehormatan dari kekerasan seksual.
Dengan penyampaian interaktif, mereka mengajak peserta memahami prinsip Tubuhku
adalah milikku, mengenali tanda-tanda pelecehan, hingga menerapkan strategi
“perisai diri” di dunia nyata dan digital. Disertai tips praktis seperti kode
darurat, pengaturan privasi media sosial, dan langkah cepat melapor, materi ini
membuat peserta sadar bahwa ancaman bisa datang kapan saja.
Mengawali sesi, narasumber menegaskan prinsip Body
Safety Rules seperti “Private Parts are Private”, berani berkata “tidak”
dan menjauh saat merasa tidak nyaman, serta pentingnya segera bercerita pada
orang yang dipercaya. Mereka juga memaparkan berbagai bentuk kekerasan seksual,
mulai dari fisik, verbal, non-verbal, hingga kekerasan seksual berbasis daring
seperti grooming, sextortion, dan cyber harassment.
Selain aspek perlindungan diri secara pribadi, peserta
diajak memahami perlindungan diri digital seperti menjaga pengaturan privasi
media sosial, tidak membagikan foto sensitif, serta mewaspadai interaksi dari
orang asing di dunia maya. Dukungan sosial juga menjadi sorotan penting, dengan
ajakan membangun jejaring aman dan memahami alur pelaporan di kampus.
Tidak hanya materi, sesi interaktif turut menghadirkan
diskusi kasus yang mendorong peserta untuk lebih peka terhadap tanda-tanda
kekerasan seksual di lingkungan sekitar. Peserta juga mendapatkan panduan
langkah darurat saat mengalami kekerasan, mulai dari mencari tempat aman,
menyimpan bukti, hingga melapor kepada pihak berwenang.
Kegiatan ini selaras dengan semangat Speak. Act.
Fight. Empower yang diusung Satgas PPKPT UNESA, yaitu membekali mahasiswa
agar berdaya melindungi diri sekaligus menjadi pelindung bagi sesama. Dengan
bekal pengetahuan ini, diharapkan mahasiswa lebih percaya diri menjaga
integritas tubuh dan kehormatannya, serta mampu menciptakan lingkungan kampus
yang aman dan inklusif.
Share It On: