Direktorat PPIS UNESA Bekali Peserta Mobilitas Akademik dengan Edukasi Pencegahan Kekerasan dan Kesiapan Mental
Keberhasilan program mobilitas akademik tidak hanya ditentukan oleh kesiapan akademik mahasiswa, tetapi juga oleh kemampuan mereka menjaga keselamatan diri, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta memahami hak-hak yang dimiliki selama menjalani kegiatan di luar kampus asal. Untuk itu, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terus memperkuat pembekalan mahasiswa melalui edukasi mengenai pencegahan kekerasan, kesehatan mental, dan manajemen risiko.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) UNESA sebagai narasumber dalam Pelatihan Dasar dan Pelepasan Mobilitas Akademik yang diselenggarakan pada Jumat (17/7). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UNESA yang akan mengikuti program mobilitas akademik.
Dalam kesempatan tersebut, Kasubdit Mitigasi Crisis Center Direktorat PPIS UNESA, Wiryo Nuryono, memberikan pembekalan mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman selama mengikuti program mobilitas akademik. Ia mengajak mahasiswa untuk memahami berbagai potensi risiko yang dapat muncul di lingkungan baru, mulai dari kekerasan, perundungan, hingga persoalan kesehatan mental yang kerap dialami mahasiswa ketika beradaptasi dengan situasi yang berbeda.
Menurut Wiryo, setiap mahasiswa memiliki hak untuk memperoleh perlindungan selama menjalankan aktivitas akademik. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami berbagai bentuk kekerasan, mengetahui mekanisme pelaporan yang tersedia, serta tidak ragu memanfaatkan layanan pendampingan apabila menghadapi situasi yang mengancam keselamatan atau kenyamanan mereka.
Selain membahas pencegahan kekerasan, materi juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental selama mengikuti program mobilitas akademik. Mahasiswa didorong untuk membangun kemampuan adaptasi, komunikasi yang efektif, serta regulasi diri dalam menghadapi dinamika lingkungan baru. Kemampuan mengenali kondisi psikologis diri sendiri dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan proses belajar sekaligus mencegah munculnya tekanan yang berlebihan.
Wiryo menegaskan bahwa keselamatan mahasiswa tidak hanya diukur dari aspek fisik, tetapi juga dari kondisi psikologis yang sehat. Oleh sebab itu, mahasiswa diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan yang dialami diri sendiri maupun teman di sekitarnya, serta segera memanfaatkan layanan bantuan apabila mengalami kendala selama mengikuti program mobilitas.
Melalui pembekalan ini, Direktorat PPIS UNESA berharap mahasiswa memiliki kesiapan yang lebih menyeluruh sebelum mengikuti program mobilitas akademik. Tidak hanya siap menghadapi tantangan akademik, mahasiswa juga diharapkan memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga keselamatan diri, kesehatan mental, serta memahami mekanisme perlindungan yang tersedia.
Share It On: