Direktorat PPIS UNESA Bekali Kader dengan Pelatihan Psychological First Aid
Dukungan psikologis di tengah berbagai situasi krisis senantiasa dibutuhkan di berbagai lingkungan, tak terkecuali lingkungan perguruan tinggi. Selain tenaga profesional, mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan dasar untuk memberikan respons awal yang tepat ketika menghadapi individu yang sedang mengalami tekanan psikologis. Sebagai bentuk penguatan kapasitas tersebut, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya menggelar pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi kader-kader PPIS.
Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan pada Senin, 4 Mei 2026 di Gedung I8 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNESA. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan dasar dalam merespons kondisi krisis secara tepat, empatik, dan terencana.
Kegiatan menghadirkan Ajeng Harlika Puspitasari, psikolog dari UPT PPA Provinsi Jawa Timur, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, Ajeng menjelaskan bahwa Psychological First Aid (PFA) merupakan keterampilan sederhana yang dilakukan secara terencana untuk membantu mengurangi dampak psikologis sekaligus mempercepat proses pemulihan individu yang sedang mengalami tekanan.
“Dalam kondisi krisis, seseorang dapat mengalami gangguan pada fungsi psikologisnya, mulai dari pikiran, emosi, hingga perilaku,” jelasnya. Situasi seperti kekerasan, kehilangan orang terdekat, hingga pengalaman traumatis lainnya menjadi contoh kondisi yang membutuhkan penanganan awal secara tepat dan penuh empati. Pelatihan berlangsung tidak hanya melalui penyampaian teori, tetapi juga praktik langsung yang melibatkan peserta secara aktif. Para kader PPIS diajak mengikuti simulasi dan bermain peran untuk memahami bagaimana memberikan respons awal kepada individu yang sedang berada dalam kondisi krisis.
Peserta juga diperkenalkan pada tiga langkah utama dalam Psychological First Aid (PFA), yaitu look, listen, dan link. Pada tahap look, peserta diajak untuk lebih peka dalam mengamati kondisi individu, termasuk mengenali tanda-tanda stres, kecemasan, maupun syok. Selanjutnya, tahap listen menekankan pentingnya mendengar secara aktif tanpa menghakimi serta memahami apa yang sedang dirasakan oleh individu tersebut. Sementara itu, tahap link berfokus pada upaya menghubungkan individu dengan bantuan atau layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan berbagai studi kasus yang diangkat dari situasi nyata, seperti kekerasan dalam hubungan maupun kekerasan seksual. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mengasah kepekaan dan kesiapan dalam memberikan respons secara langsung.
Selain itu, peserta juga dibekali teknik dasar dalam memberikan dukungan emosional, seperti menjaga nada suara tetap tenang, menunjukkan empati melalui sikap dan ekspresi, serta membantu individu agar merasa lebih aman dalam situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini dinilai penting untuk membangun rasa percaya dan mendukung proses pemulihan awal seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis.
Harapannya, kader-kader Direktorat PPIS mampu menjadi garda awal dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan isu kekerasan. Dengan bekal keterampilan Psychological First Aid, peserta diharapkan dapat memberikan dukungan awal yang tepat sekaligus membantu menghubungkan individu dengan layanan profesional yang dibutuhkan.
Share It On: