Dari Edukasi ke Aksi, Direktorat PPIS UNESA Ajak Mahasiswa Jadi Pelopor Kampus Bebas Kekerasan
Mewujudkan kampus yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan tidak cukup hanya melalui kebijakan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif mahasiswa sebagai agen perubahan. Berangkat dari semangat tersebut, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terus memperkuat edukasi mengenai kesehatan mental dan pencegahan kekerasan melalui berbagai kegiatan yang menyasar sivitas akademika.
Salah satunya diwujudkan melalui Seminar "Mewujudkan Kampus Bebas Kekerasan Seksual: Dari Kebijakan ke Aksi Nyata" yang menjadi bagian dari rangkaian Manifesto Expo 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Tata Busana Fakultas Vokasi UNESA itu berlangsung di V Junction, Ciputra World Surabaya, pada Jumat (26/6).
Seminar menghadirkan Kepala Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC) UNESA, Wiryo Nuryono, bersama anggota Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UNESA unsur mahasiswa, Jesica Teresya Roni Putri. Keduanya membahas isu kesehatan mental, pencegahan kekerasan seksual, serta pentingnya membangun budaya kampus yang aman dan saling menghormati.
Dalam sesi pertama, Wiryo Nuryono mengajak mahasiswa untuk memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan akademik. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan menjaga kesehatan fisik maupun psikologis agar mampu menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjauhi penyalahgunaan narkotika serta membangun integritas sebagai bekal dalam kehidupan akademik maupun dunia kerja.
"Kesehatan mental yang baik akan membantu mahasiswa belajar dengan optimal, membangun relasi yang sehat, serta menghadapi berbagai tantangan dengan lebih bijaksana. Integritas dan kepedulian terhadap diri sendiri menjadi modal penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang tangguh," ungkapnya.
Sementara itu, Jesica Teresya Roni Putri mengajak peserta memahami bahwa pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab seluruh warga kampus. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan perguruan tinggi, termasuk pelecehan seksual, penyalahgunaan relasi kuasa, hingga budaya diam (silent culture) yang sering kali menghambat proses pelaporan.
Ia juga memperkenalkan mekanisme pelaporan yang tersedia di UNESA serta mendorong mahasiswa untuk tidak ragu melaporkan apabila mengalami, menyaksikan, atau mengetahui adanya tindak kekerasan. "Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Menciptakan kampus yang aman dimulai dari keberanian untuk saling peduli, saling menghormati, dan tidak membiarkan kekerasan terjadi di sekitar kita," jelas Jesica.
Melalui kegiatan ini, Direktorat PPIS UNESA berharap semakin banyak mahasiswa yang memahami pentingnya kesehatan mental, memiliki keberanian untuk mencegah dan melaporkan segala bentuk kekerasan, serta menjadi pelopor dalam membangun budaya kampus yang sehat, aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Dengan keterlibatan seluruh sivitas akademika, nilai-nilai kepedulian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab bersama diharapkan semakin mengakar dalam kehidupan kampus.
Share It On: