Bimtek PPG: Wujudkan Lingkungan Pendidikan Bebas Kekerasan dan Sehat Mental
Dalam rangka membangun lingkungan kerja dan pendidikan yang sehat, Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Penguatan Kesehatan Mental dan Lingkungan Bebas Kekerasan” pada Kamis, 16 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Unesa, sebagai narasumber utama.
Acara yang diikuti oleh 100 peserta dari unsur dosen pengelola Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan tenaga kependidikan ini berfokus pada dua isu krusial dalam dunia pendidikan, yakni kesehatan mental dan pencegahan kekerasan. Melalui forum ini, peserta diajak merefleksikan kembali bagaimana dinamika pekerjaan dan interaksi sosial di lingkungan kampus dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis individu maupun suasana kerja secara kolektif.
Prof. Mutimmatul Faidah mengawali sesi dengan mengajak peserta melakukan self-reflection melalui lima prinsip yang ia sebut sebagai pilar iklim kerja sehat: kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja tuntas, dan kerja mawas. Menurutnya, kelima aspek ini penting diterapkan di lingkungan Unesa agar setiap civitas akademika dapat menampilkan kinerja terbaik tanpa mengorbankan kesehatan mental. “Kinerja yang berkah lahir dari hati yang sehat dan lingkungan kerja yang saling mendukung,” ujarnya.
Selain membahas pentingnya keseimbangan mental di dunia kerja, forum ini juga menyoroti fenomena kekerasan yang masih terjadi di satuan pendidikan, termasuk di perguruan tinggi. Prof. Mutim mengungkapkan bahwa kasus kekerasan tidak hanya melibatkan siswa atau mahasiswa sebagai korban, tetapi juga dapat muncul dalam relasi antarpendidik maupun tenaga kependidikan. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara sistemik melalui budaya organisasi yang berperspektif kemanusiaan dan berkeadilan.
Menariknya, dalam diskusi ini juga muncul perhatian terhadap fenomena baru di dunia pendidikan, yaitu munculnya sikap permisif sebagian guru terhadap perilaku siswa karena khawatir dilaporkan atau disalahartikan dalam konteks kekerasan. Kondisi ini, menurut Prof. Mutim, merupakan anomali yang perlu direspons bijak oleh lembaga pendidikan. “Kita perlu membangun keseimbangan antara ketegasan dan empati, agar pendidikan tetap berjalan dengan wibawa, namun tidak menimbulkan luka,” terangnya.
Melalui Bimtek ini, BPPG Unesa menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan akademik yang mendukung kesehatan mental sekaligus bebas dari segala bentuk kekerasan. Penguatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan melalui kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil belajar, tetapi juga pada kesejahteraan dan keselamatan seluruh warga kampus.
Share It On: